Reseller hosting
Tampilkan postingan dengan label Ibu dan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu dan Anak. Tampilkan semua postingan

11 Mei 2012

Apakah Anak Perlu Tahu Masa Lalu Orangtuanya?


Ajeng Leodita Anggarani | 11 May 2012 

1336734087812370686
http://gerryindrapratamaatje.blogspot.com/2011/06/yohanes-2011-18.html
Seringkali kita mendengar ada orangtua yang mengatakan “saya nggak mau anak saya kelak akan bernasib seperti saya”.
Maksudnya pasti bukan sebuah keberhasilan yang dicapai, itu pasti menunjuk pada kegagalan yang dialami oleh si orangtua. Siapapun orangtua pastilah berfikir demikian, harapannya adalah si buah hati nantinya akan tumbuh besar dengan segala sesuatu yang lebih baik. Hal ini sah – sah saja. Walaupun ada pepatah yang menyebutkan “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”.
Ini pengalaman tetangga saya. Yang notabene ex-PSK (Pekerja Seks Komersial) dilingkungan rumah saya pekerjaan wanita ini (sebut saja namanya Cahaya) sudah menjadi rahasia umum. Cibiran, hinaan , cacian, kerapkali mengisi kesehariannya, namun ia seakan tidak peduli. Ia keluar rumah sekitar pukul 7 malam, dan kembali kerumah sebelum matahari terbit. Cahaya sudah pernah menikah. Ia memiliki 2 anak dari dua orang suami. Sebelum memiliki anak pun, Cahaya memang sudah menjadi seorang PSK. Dan perkawinannya biasanya terjadi karena “kebablasan”. Namun setelah dinikahi, Cahaya pun diceraikan. Begitu hingga dua kali terjadi. Kedua putrid Cahaya tak pernah tahu apa pekerjaan ibunya. Orangtua Cahaya pun hanya mengatakan pada kedua cucunya bahwa ibu mereka sedang mencari uang untuk makan. Lagipula usia mereka masih terlalu kecil untuk memahami apa itu PSK dan apapula pekerjaannya.
Usia semakin bertambah, Cahaya kini memiliki banyak saingan. PSK yang bermunculan jauh lebih muda, cantik dan segar, akhirnya Cahaya mulai mencari uang tambahan dengan bekerja sebagai wasit billiard yang lokasinya tak jauh dari rumah kami. Disana Cahaya  berkenalan dengan seorang lelaki matang yang adalah Bandar judi bola, sebut saja namanya Deni. Waktu berlalu mereka pun menjadi sepasang kekasih. Sampai akhirnya Deni mengajak Cahaya untuk membina rumah tangga. Deni tahu bagaimana masa lalu Cahaya. Menurut Deni itu tak jadi masalah, karena ia hanya butuh seorang wanita yang akan mengurus anak – anaknya nanti.
Dan mereka pun menikah. Kedua putri Cahaya tidak pernah tahu darimana ibu mereka mengenal papa tirinya. Mereka hanya menerima keputusan ibunya untuk menikah lagi dan berjanji akan memberikan penghidupan yang layak. Cahaya juga seringkali memperingatkan pada suaminya jika jangan pernah membahas tentang masa lalu mereka di hadapan anak – anak.
Waktu terus berjalan. Cahaya pun melahirkan anak dari suami ketiganya itu. keuangan Cahaya membaik. Rumah mereka yang awalnya mengontrak kini berganti dengan sebuah rumah sederhana atas nama dirinya. Deni mampu memberikan apapun yan dibutuhkan Cahaya dan ketiga anak mereka. Kedua putri Cahaya tumbuh menjadi remaja yang cantik. Mereka sudah mengenal cinta monyet. Saat kedua putrinya sudah mulai besar, Cahaya sudah tak lagi bekerja. Karena semua sudah ditanggung oleh Deni. Jadi semakin sukses saja Cahaya menutup rapat kisahnya di masa lalu. Dan ia sepertinya sudah bisa tenang.
Namun pada suatu hari, anak sulungnya pulang kerumah dengan menagis sesenggukan. Cahaya yang sedang mengurus bayinya bingung. Ia bertanya,”kenapa kok nangis?”. Si anak diam menunduk dan semakin kencang menangisnya.
Cahaya bertanya sekali lagi,”kenapa nangis? Ayo bilang sama mama. Jangan begitu!”
Anaknya mengangkat wajahnya dan memandang ke arah Cahaya dan menatap mata Cahaya dengan tajam sambil berkata,”Tadi aku mau di cium sama pacarku. Aku nggak mau. Tapi dia bilang supaya aku jangan munafik. Karena mamaku dulu pelacur. Dan aku pasti tidak jauh berbeda dengan mama. Kenapa mama nggak pernah cerita ke aku? Kenapa aku harus tahu dari oranglain? Kalau aku tahu dari dulu, pasti aku nggak akan sekecewa ini ma. Mama pembohong!!”
Cahaya tak mampu menjawab. Dia hanya diam sambil menahan tangis. Ia tak menyangka, aib yang sudah ia jaga selama ini tercium juga oleh putrinya.
Dari kalimat si anak sulung Cahaya, kita bisa memahami, bahwa seburuk apapun masa lalu orangtua, si anak akan jauh lebih bisa menerima daripada harus mendengar dari orang lain. Karena akan jauh lebih memalukan. Jika anak kita tahu dari awal pastinya mentalnya akan jauh lebih siap.
Disini saya coba melemparkan pertanyaan pada pembaca sekalian, “Apakah kita harus membeberkan masa lalu kita pada anak ? Atau, “Apakah kita harus menutup rapat keburukan kita dimasa lalu pada anak dan membiarkannya mengetahui hal itu dari orang lain? Anda berhak menjawab dengan pola pikir masing – masing.
Tapi menurut pandangan saya, tidak semua perkiraan kita (orangtua) akan benar adanya. Ketakutan yang berlebihan pun akhirnya mampu menghancurkan mental anak kita.  Walau bagaimanapun kondisi orangtua dimasa lalu, baik itu buruk atau tidak, si anak harusnya bisa menerima. Karena pasti ada alasan mengapa orangtua melakukan hal tersebut. Dan sebagai orangtua sudah sepatutnya juga tidak menyimpan bangkai dalam keluarga. Semoga ini bisa jadi pembelajaran untuk kita bersama. Jadikanlah masalalu sebagai pelajaran yang berharga untuk masa depan.

21 April 2012

Siapa bilang wanita hamil tidak boleh puasa ?

Bulan puasa adalah bulan yang penuh berkah, bulan terbaik dimana berkah dan rahmat senantiasa tercurah dari Yang Maha Kuasa. Di bulan puasa ini seluruh umat uslim di dunia wajib melakukan ibadah puasa selama 30 hari. Menahan segala bentuk makan, minum, dan hawa nafsu dari mulai imsyak hingga waktunya berbuka di petang hari. Namun ada beberapa golongan yang diberikan keringanan untuk tidak berpuasa, salah satunya adalah ibu hamil dan ibu menyusui. Kepada mereka, diperbolehkan untuk membatalkan puasanya dengan keharusan menggantinya di hari lain baik disertai membayar fidyah maupun tidak. Namun, jika wanita hami lingin "memaksakan" untuk berpuasa dengan alasan kuat selama melakukan puasa atau malah malas untuk mengganti puasa di bulan-bulan berikutnya, apakah  cukup aman baik bagi dirinya maupun janin yang dikandungnya?

Jawabanya adalah tergantung dari kondisi kesehatan ibu hamil itu sendiri. Selama kondisi kesehatan wanita hamil dan janin yang dikandungnya setelah dilakukan pemeriksaan dinyatakan sehat, maka wanita hamil diperbolehkan untuk berpuasa dengan syarat ibu hamil tetap mampu memenuhi kebutuhan nutrisi baik bagi dirinya maupun janin yang dikandungnya. Pemenuhan nutrisi ini harus sama dengan kondisi ketika tidak berpuasa cuman yang berbeda pemenuhan nutrisi ini dipindah waktunya tentunya dilakukan pada saat sahur dan berbuka puasa serta antara waktu berbuka puasa dan sahur.

Kandungan nutrisi dan gizi yang seimbang sekitar 2.500 kalori dalam sehari, dengan komposisi 50% karbohidrat (sekitar 308 gram), 30% protein (sekitar 103 gram), dan 10-20% lemak (sekitar 75 gram). Pemenuhan nutrisi bisa dilakukan dengan mengkonsumsi makanan empat sehat lima sempurna yang terdiri dari nasi, sayur, lauk pauk, buah, dan susu setiap kali bersantap buka dan sahur. Anda juga bisa menambahkan suplemen vitamin yang diyakini cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ibu hamil selama berpuasa. Di samping itu, ada beberapa zat penting yang diperlukan saat kehamilan, di antaranya asam folat, zat besi dan kalsium. Asam folat diperoleh dari kacang-kacangan, zat besi didapatkan dari sayuran, sementara sumber kalsium bisa didapatkan dari susu dan ikan.

Namun, ada beberapa kasus ibu hamil disarankan untuk tidak berpuasa jika mengalami gangguan sebagai berikut:
Kencing manis atau diabetes (DM)
Penyakit darah tinggi atau hipertensi
Mengalami Perdarahan
Dehidrasi atau kekurangan cairan
Gangguan sistem pencernaan
Wanita hamil dengan kencing manis  tidak disarankan untuk  berpuasa. Alasannya adalah selain harus menjalani terapi obat secara teratur, ibu hamil juga harus mematuhi program makan yang telah dibuatkan supaya kadar gula dalam darah bisa tetap terkontrol atau bisa tetap stabil.

Baik sebelumnya mempunyai riwayat hipertensi atau hipertensi dalam kehamilan. Ini penting untuk pengaturan obat dan pengaturan naik dan turunnya tekanan darah. Naik turun tekanan harus dihindari selama hamil karena bisa menyebabkan kematian ibu maupun si bayi. Ini jelas kontra indikasi atau tidak diperbolehkan berpuasa. Kalau tetap dipaksakan berpuasa bisa mengkhawatirkan keadaan janin di dalam kandungan.

Banyak penyebabnya seperti muntah terus selama hamil (hiperemesis gravidarum),wanita hamil muda dengan morning sickness atau mual-muntah terus, nafsu makan tidak ada (anorexia). Gangguan sistem pencernaan yang paling jamak adalah sakit lambung atau maag. Ibu hamil dengan gangguan ini yang memaksakan diri berpuasa berarti memperbesar peluang penyakitnya akan kambuh. Lambung kosong akan mempertinggi peluang terjadinya peningkatan asam lambung dan bisa berbahaya untuk bayi.


Sumber : Bidanku

18 April 2012

Agar Anak Pintar Sejak Dalam Kandungan


Bukan hal aneh bahwa seorang anak dapat dididik dan dirangsang kecerdasannya sejak masih dalam kandungan. Malah, sejak masih janin, orang tua dapat melihat perkembangan kecerdasan anaknya. Untuk bisa seperti itu, orang tua harus memperhatikan beberapa aspek, antara lain terpenuhinya kebutuhan biomedis, kasih sayang, dan stimulasi. Hal ini diungkap dokter spesialis anak, dr Sudjatmiko, MD SpA.

Bicara tentang kecerdasan, tentu saja tidak bisa lepas dari masalah kualitas otak, sedangkan kualitas otak itu dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Secara prinsip, menurut Sudjatmiko, perkembangan positif kecerdasan sejak dalam kandungan itu bisa terjadi dengan memperhatikan banyak hal. Pertama, kebutuhan-kebutuhan biologis (fisik) berupa nutrisi bagi ibu hamil harus benar-benar terpenuhi. Seorang ibu hamil, gizinya harus cukup. Artinya, asupan protein, karbohidrat, dan mineralnya terpenuhi dengan baik.
Selain itu, seorang ibu hamil tidak menderita penyakit yang akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak dalam kandungannya. Kebutuhan nutrisi itu sendiri, sebenarnya bukan hanya ketika ibu mengandung, melainkan ketika ia siap untuk mengandung pun sudah harus memperhatikan gizi, makanan, dan komposisi nutrisinya harus lengkap, sehingga ketika ia hamil, dari segi fisik sudah siap dan proses kehamilan akan berlangsung optimal secara nutrisi.
Tapi, memang di Indonesia atau di negara-negara berkembang pada umumnya–boleh dikatakan sangat jarang ada keluarga yang mempersiapkan kehamilan. Malah, kerap kehamilan dianggap sebagai suatu yang mengejutkan. Berbeda dengan yang terjadi di negara-negara maju. Inilah yang cenderung menjadi penyebab awal mengapa anak-anak yang lahir kemudian tidak berkualitas, karena orang tua seakan tidak siap dalam segala hal untuk memelihara anaknya.
Faktor kedua adalah kebutuhan kasih sayang. Seorang ibu harus menerima kehamilan itu, dalam arti kehamilan yang benar-benar dikehendaki. Tanpa kasih sayang, tumbuh kembangnya bayi tidak akan optimal. “Si ibu hamil harus siap dan dapat menerima risiko dari kehamilannya,” kata mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Dokter Anak Indonesia itu. “Risiko itu, misalnya, seorang wanita karier yang hamil, merasa terbebani dan khawatir akan mengganggu pekerjaannya. Ia sebenarnya ingin hamil, tapi juga merasa terganggu dengan kehamilannya itu. Kondisi seperti ini tidak kondusif untuk merangsang perkembangan bayi dalam kandungannya,” tambahnya.
Selain itu, menurut Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, ada faktor psikologis yang memengaruhi perkembangan kecerdasan bayi, yaitu apakah si ibu hamil menikah secara resmi atau kawin lari. Pernikahannya direstui atau tidak, dan apakah ada komitmen antara istri dan suami. Tanpa komitmen di antara keduanya, kehamilan itu bisa dianggap mengganggu.
Juga harus ada support (dukungan). Tanpa support, walaupun ada komitmen dari suami dan orang tua dapat mengurangi perkembangan dan rangsangan kecerdasan bayi dalam kandungan. “Jadi, variabel kasih sayang tadi adalah komitmen dengan suami, serta support dari orang tua dan keluarga, sehingga seorang ibu dapat menerima kehamilannya dengan hati tenteram,” lanjut Sudjatmiko.
Faktor ketiga adalah adanya perhatian penuh dari si ibu hamil terhadap kandungannya. Ia dapat memberikan rangsangan dan sentuhan secara sengaja kepada bayi dalam kandungannya. Karena secara emosional akan terjadi kontak. Jika ibunya gembira dan senang, dalam darahnya akan melepaskan neo transmitter zat-zat rasa senang, sehingga bayi dalam kandungannya juga akan merasa senang.
Sebaliknya, bila si ibu selalu merasa tertekan, terbebani, gelisah, dan stres, ia akan melepaskan zat-zat dalam darahnya yang mengandung rasa tidak nyaman tersebut, sehingga secara tidak sadar bayi akan terstimuli juga ikut gelisah. “Yang paling baik adalah stimuli berupa suara-suara, elusan, dan nyanyian yang disukai si ibu. Hal ini akan merangsang bayi untuk ikut senang. Berbeda jika si ibu melakukan hal-hal yang tidak disukainya, karena itu sama saja memberikan rangsangan negatif pada bayi,” ujar Sudjatmiko.
Tapi, stimuli itu sendiri lebih efektif bila kehamilan sudah menginjak usia di atas enam bulan. Sebab, pada usia tersebut jaringan struktur otak pada bayi sudah mulai bisa berfungsi.
Untuk mendapatkan kondisi-kondisi itulah, seorang ibu hamil harus tetap menjaga nutrisi yang didapat dari makanan sehari-hari. Bahkan, perlu diimunisasi, misalnya dengan suntik TT. Lakukan juga konsultasi rutin dengan dokter secara berkala. Mula-mula sekali sebulan, dan pada bulan terakhir menjelang kelahiran (partus), diperketat menjadi tiga minggu sekali, lalu dua minggu sekali, dan bahkan mendekati partus menjadi setiap minggu.
Sudjatmiko juga menyarankan untuk tidak meminum obat-obatan yang katanya bisa merangsang perkembangan dan kecerdasan otak bayi. Obat-obatan semacam itu hanya omong kosong. “Pemberian obat semacam itu percuma saja, dan tidak berpengaruh apa-apa,” katanya. “Yang penting, ciptakan saja lingkungan mendidik, yaitu tiga faktor tadi.
Sementara itu, psikolog anak Dra Surastuti Nurdadi juga mengungkapkan pendapat yang sama. Stimulasi positif, menurutnya, memang dapat meningkatkan kecerdasan anak sejak dalam kandungan. Dari stimulasi ini, diharapkan ketika anak tumbuh, bukan hanya menjadi cerdas, melainkan dapat bersosialisasi dengan lingkungannya. “Stimulasi menimbulkan kedekatan antara ibu dan anak.
Bahkan, lanjut Surastuti, bayi masih dalam kandungan bisa distimuli dengan diperdengarkan musik klasik, diajak berbicara, dan diberikan elusan penuh kasih sayang. Orang tua juga harus siap dan berusaha mengajarkan cara anaknya bersosialisasi dengan dunia luar ketika ia masih di dalam rahim.
Tapi, mengapa musik klasik? Pendapat semacam ini memang terus menjadi topik bahasan. Musikus hebat seperti Adhi MS, pimpinan Twilite Orchestra, juga meyakini musik klasik dapat merangsang kecerdasan bayi sejak dalam kandungan. Bahkan, untuk jenis musik yang ‘merangsang bayi’ ini sudah banyak dijual di toko-toko kaset tertentu.
Sumber : Keluarga Cemara


Jasa Web Murah

Reseller hosting

Kabar UPI

Reseller hosting
Reseller hosting
Reseller hosting